Demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba pada anak sering membuat orang tua khawatir, terutama ketika disertai tubuh lemas, mual, atau muncul bintik kemerahan pada kulit. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), yaitu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
DBD dapat menyerang anak-anak dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius apabila tidak dikenali sejak awal. Karena itu, Ayah dan Bunda perlu memahami gejala awal serta tanda bahaya DBD pada anak agar dapat segera mengambil tindakan yang tepat.
Apa Saja Gejala Awal DBD pada Anak?
Gejala dengue umumnya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:
- Demam tinggi mendadak, biasanya berlangsung 2–7 hari.
- Sakit kepala dan nyeri di belakang mata.
- Nyeri otot dan persendian, sehingga anak terlihat tidak nyaman bergerak.
- Mual dan muntah, terkadang disertai penurunan nafsu makan.
- Ruam atau bintik kemerahan pada kulit.
Gejala awal DBD dapat menyerupai penyakit infeksi lainnya. Tidak semua anak mengalami tanda yang sama, sehingga pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kemungkinan infeksi dengue.
Kenali Tanda Bahaya DBD yang Perlu Diwaspadai
Salah satu hal penting yang perlu diketahui orang tua adalah kondisi anak dapat memburuk ketika demam mulai turun. Karena itu, jangan langsung menganggap anak sudah sembuh hanya karena suhu tubuhnya kembali normal.
Segera bawa anak ke IGD apabila muncul tanda bahaya berikut:
- Nyeri perut hebat atau perut terasa sakit ketika disentuh.
- Muntah terus-menerus.
- Mimisan atau gusi berdarah.
- Muntah darah atau BAB berwarna hitam.
- Anak sangat lemas, gelisah, atau sulit dibangunkan.
- Napas cepat, kulit pucat dan dingin, serta tangan atau kaki terasa dingin.
Tanda tersebut dapat menunjukkan kebocoran plasma, perdarahan, atau gangguan sirkulasi yang membutuhkan penanganan segera.
Mengapa Demam Turun Justru Perlu Diwaspadai?
DBD memiliki tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Fase kritis biasanya terjadi ketika demam mulai mereda dan berlangsung sekitar 24–48 jam.
Pada periode ini, sebagian pasien dapat mengalami kebocoran plasma yang menyebabkan penurunan volume cairan dalam pembuluh darah. Kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi syok apabila tidak segera ditangani.
Oleh karena itu, pemantauan kondisi anak tetap penting meskipun demam sudah turun.
Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
Jika anak mengalami demam yang dicurigai mengarah ke DBD, segera periksakan ke fasilitas kesehatan. Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan mempertimbangkan pemeriksaan darah sesuai kondisi serta hari sakit anak.
Selama menunggu pemeriksaan, pastikan anak mendapatkan cukup cairan dan istirahat. Hindari pemberian aspirin atau ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Obat penurun demam seperti parasetamol diberikan sesuai dosis dan anjuran tenaga kesehatan.
Konsultasi Dokter Anak Cilacap
Ayah dan Bunda yang memiliki kekhawatiran mengenai demam atau kondisi kesehatan Si Kecil dapat berkonsultasi dengan dr. Lestarina Veronica Haloho, M.Sc., Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Klinik Amalia Bunda Medika.
🗓️ Senin–Kamis | 18.30–20.30 WIB
📍 Jalan Dokter Rajiman No.36, Sabukjanur, Kebonmanis, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap
📱 WhatsApp Reservasi: 0823-2969-9844
Jangan abaikan demam dan tanda bahaya pada anak. Jadwalkan pemeriksaan bersama Dokter Anak Cilacap di Klinik Amalia Bunda Medika untuk membantu mengevaluasi kondisi kesehatan Si Kecil.
Catatan: Jika anak menunjukkan tanda bahaya DBD, segera bawa ke IGD terdekat. Jangan menunggu jadwal praktik poli.
Referensi:
1. World Health Organization. (2024). Dengue and Severe Dengue: Fact Sheet. WHO Indonesia.
https://www.who.int/indonesia/id/emergencies/dengue-and-severe-dengue-fact-sheet
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Demam Berdarah Dengue: Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan yang Tepat. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, 14 September 2026.
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4449/demam-berdarah-dengue-pentingnya-deteksi-dini-dan-penanganan-yang-tepat
3. Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Clinical Care of Dengue.
https://www.cdc.gov/dengue/hcp/clinical-care/
4. Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Symptoms of Dengue and Testing.
https://www.cdc.gov/dengue/signs-symptoms/
5. Kusuma, S. S. (2025). Manifestasi Klinis dan Komplikasi Infeksi Dengue pada Anak-Anak: Wawasan dan Perbandingan dengan Kasus pada Dewasa: Tinjauan Pustaka. Cermin Dunia Kedokteran, 52(8).
https://doi.org/10.55175/cdk.v52i8.1518
6. Schaefer, T. J., Panda, P. K., & Wolford, R. W. (2024). Dengue Fever. StatPearls. National Center for Biotechnology Information.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430732/