
Banyak orang Indonesia yang masih mempercayai mitos bahwa tidur di lantai dapat menyebabkan paru-paru basah. Anggapan ini sering diwariskan secara turun-temurun dan dianggap sebagai peringatan agar tidak sembarangan berbaring di lantai.
Namun, benarkah tidur di lantai memang bisa mengakibatkan gangguan paru-paru yang berbahaya? Mari simak penjelasan dokter.
Apa Itu Paru-Paru Basah?
Paru-paru basah atau dalam istilah medis dikenal sebagai pneumonia adalah kondisi ketika paru-paru mengalami peradangan akibat infeksi, baik dari bakteri, virus, maupun jamur.
Gejalanya dapat berupa demam, batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, hingga tubuh terasa lemas. Kondisi ini bukanlah penyakit ringan. Bila tidak ditangani dengan tepat, pneumonia bisa berakibat fatal.
Dr. Tirta menegaskan bahwa anggapan bahwa tidur di lantai menyebabkan paru-paru basah (pneumonia) adalah mitos belaka. Penyakit paru-paru basah umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur, bukan karena lantai dingin atau tidur langsung di lantai.
Dokter lain pun turut menegaskan bahwa tidur di lantai tidak secara langsung menyebabkan paru-paru basah. Lantai, khususnya yang dingin atau lembap, hanya dapat meningkatkan risiko seseorang terserang penyakit lain yang kemudian berkontribusi terhadap menurunnya daya tahan tubuh.
Misalnya, saat tidur di lantai yang dingin, tubuh lebih mudah kedinginan. Kondisi ini dapat membuat sistem imun menurun sehingga infeksi virus atau bakteri lebih gampang menyerang saluran pernapasan.
Selain itu, lantai yang tidak bersih dapat menyimpan debu, kotoran, bahkan tungau. Jika terhirup secara terus-menerus, debu dan alergen tersebut bisa memicu batuk, pilek, atau alergi pernapasan.
Bila tubuh dalam keadaan lemah, infeksi sekunder lebih mudah berkembang menjadi radang paru atau pneumonia.
Tidur di Lantai: Mitos atau Fakta?
Menurut keterangan beberapa dokter paru, faktor utama yang menyebabkan pneumonia adalah paparan mikroorganisme patogen, bukan sekadar suhu dingin atau posisi tidur.
Artinya, orang yang tidur di kasur pun tetap bisa terkena paru-paru basah jika terpapar virus atau bakteri penyebab. Namun memang, tidur di lantai yang lembap, dingin, dan kotor dapat menjadi salah satu faktor pendukung yang memperbesar kemungkinan tubuh jatuh sakit.
Tidur di lantai juga tidak selalu berdampak buruk. Ada sebagian orang yang merasa lebih nyaman tidur di lantai karena permukaan yang keras dapat membantu menjaga postur tulang belakang.
Bahkan dalam beberapa budaya Asia, tidur di lantai menjadi kebiasaan turun-temurun yang dianggap sehat, asalkan kondisi lantainya bersih, kering, dan suhu ruangan terjaga.
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar tetap aman bila ingin tidur di lantai? Dokter menyarankan untuk selalu menggunakan alas tidur seperti tikar, matras tipis, atau karpet yang bersih.
Hindari tidur langsung bersentuhan dengan lantai, terutama bila lantai terbuat dari keramik atau semen yang mudah dingin. Jaga juga kebersihan ruangan dan pastikan ventilasi udara baik agar debu maupun kuman tidak menumpuk.
Jadi, tidur di lantai tidak menyebabkan paru-paru basah secara langsung. Yang menyebabkan penyakit tersebut adalah infeksi pada paru-paru, sedangkan tidur di lantai hanya bisa menjadi faktor pemicu bila lingkungan tidak higienis atau suhu terlalu dingin.
Jadi, daripada khawatir berlebihan, lebih baik fokus menjaga kebersihan tempat tidur, daya tahan tubuh, serta menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari pneumonia.
Dengan penjelasan ini, diharapkan masyarakat lebih memahami perbedaan antara mitos dan fakta medis. Paru-paru basah bukanlah akibat tidur di lantai semata, melainkan karena infeksi yang dapat dicegah dengan pola hidup sehat dan lingkungan yang bersih.***