Menjalankan ibadah puasa umumnya memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh.
Namun, bagi sebagian orang dengan riwayat Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), perubahan pola makan dan waktu konsumsi makanan selama puasa justru dapat memicu keluhan.
Rasa perih di lambung, sensasi panas di dada, mual, hingga asam lambung yang naik ke tenggorokan kerap muncul, terutama menjelang waktu berbuka atau pada malam hari.
Kondisi ini tidak boleh diabaikan. Apabila gejala terjadi berulang dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan ke dokter spesialis penyakit dalam menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.
Mengapa GERD Rentan Kambuh Saat Puasa?
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup di bagian bawah kerongkongan atau sfingter esofagus bawah.
Saat katup ini tidak menutup dengan sempurna, cairan asam dari lambung mudah naik dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
Selama puasa, terdapat beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi tersebut.
Lambung yang kosong dalam waktu lama dapat memicu peningkatan produksi asam lambung. Ketika waktu berbuka tiba, konsumsi makanan tertentu dalam jumlah besar juga dapat memperburuk keluhan.
Beberapa pemicu yang umum terjadi antara lain:
- Lambung kosong dalam waktu lama sehingga produksi asam lambung meningkat
- Konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, atau minuman berkafein saat sahur dan berbuka
- Makan berlebihan saat berbuka
- Langsung berbaring setelah makan malam
Kombinasi faktor tersebut membuat keluhan GERD lebih mudah muncul selama menjalani ibadah puasa.
Gejala GERD yang Kerap Muncul Saat Puasa
Keluhan GERD saat puasa dapat bervariasi pada setiap individu. Namun, sejumlah gejala berikut paling sering dirasakan:
- Nyeri atau sensasi terbakar di dada (heartburn)
- Perut terasa perih atau kembung
- Mual dan rasa asam di mulut
- Sering sendawa
- Nyeri ulu hati, terutama saat perut kosong
Gejala-gejala tersebut bisa muncul ringan hingga berat. Jika keluhan terjadi berulang, semakin intens, atau mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari, konsultasi medis perlu segera dilakukan.
Langkah Mengurangi Risiko Kambuhnya GERD Saat Puasa
Penyesuaian pola makan dan gaya hidup menjadi kunci utama dalam mengendalikan GERD selama puasa. Beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
- Sahur tepat waktu dan tidak melewatkannya
- Hindari makanan pedas, asam, berlemak, dan gorengan
- Batasi konsumsi kopi, teh, dan minuman bersoda
- Makan dalam porsi kecil saat berbuka
- Jangan langsung tidur setelah makan, beri jeda minimal 2–3 jam
- Kelola stres dengan baik
Meski demikian, perubahan pola hidup saja terkadang belum cukup. Pada kondisi tertentu, terapi medis tetap dibutuhkan untuk mengontrol produksi asam lambung dan mencegah iritasi lebih lanjut pada kerongkongan.
Risiko Komplikasi Jika Tidak Ditangani
GERD yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat menimbulkan komplikasi.
Peradangan pada dinding kerongkongan, luka akibat paparan asam lambung, hingga gangguan menelan bisa terjadi apabila kondisi berlangsung dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit dalam menjadi langkah penting.
Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk memastikan tingkat keparahan, faktor pemicu, serta menentukan terapi yang tepat dan aman selama menjalani puasa.
Konsultasi Dokter Penyakit Dalam di Klinik Amalia Bunda Medika Cilacap
Masyarakat Cilacap yang mengalami keluhan GERD, nyeri dada, maag, asam lambung, maupun gangguan penyakit dalam lainnya dapat melakukan konsultasi langsung dengan dokter spesialis.
Pelayanan tersedia di Klinik Amalia Bunda Medika bersama:
dr. Fakhri, Sp.PD
🗓 Senin – Jumat
⏰ 15.30 – 18.00 WIB
📍 Klinik Amalia Bunda Medika Cilacap
📲 Pendaftaran & konsultasi: 0823-2969-9844
📸 Instagram: @amaliabunda_medika
🔗 Linktree: https://linktr.ee/amaliabunda_medika
Melalui konsultasi, pasien akan mendapatkan evaluasi menyeluruh terkait penyebab GERD, panduan pengaturan pola makan dan gaya hidup, serta terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Penanganan yang tepat dapat membantu mengontrol gejala sehingga ibadah puasa tetap dapat dijalankan dengan nyaman.