Amalia Bunda Medika

Anak Sering Berjalan Jinjit, Apakah Normal?

Bagikan :

Pernah melihat anak berjalan dengan ujung kaki tanpa menapakkan tumit ke lantai? Kebiasaan ini disebut toe walking atau berjalan jinjit. Kondisi tersebut cukup sering terlihat pada anak yang baru belajar berjalan. Namun, jika anak sering berjalan jinjit dan kebiasaan ini terus berlanjut, orang tua perlu memperhatikan perkembangannya.

Lantas, apakah anak sering berjalan jinjit termasuk hal yang normal? Berikut penjelasannya.

Apakah Berjalan Jinjit pada Anak Normal?

Pada tahap awal belajar berjalan, sebagian anak sesekali berjalan menggunakan ujung kaki. Hal ini dapat menjadi variasi dalam perkembangan pola berjalan. Sebagian besar anak mulai menggunakan pola berjalan dengan menapak dari tumit ke ujung kaki setelah berusia sekitar 2 tahun.

Pada anak yang lebih besar, berjalan jinjit sesekali belum tentu menandakan gangguan. Terlebih jika anak masih bisa menapakkan seluruh telapak kaki ketika diminta, berjalan dengan seimbang, dan tidak mengalami keluhan lain.

Namun, kebiasaan berjalan jinjit yang menetap setelah usia 2 tahun sebaiknya diperiksakan untuk mengetahui penyebabnya.

Apa Penyebab Anak Sering Berjalan Jinjit?

Ada beberapa kemungkinan penyebab anak berjalan jinjit, antara lain:

  1. Kebiasaan berjalan. Sebagian anak terus berjalan jinjit meskipun tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik maupun saraf. Kondisi ini dikenal sebagai idiopathic toe walking, yaitu berjalan jinjit tanpa penyebab medis yang dapat diidentifikasi.
  2. Otot betis atau tendon Achilles yang kaku. Ketegangan atau pemendekan otot betis dan tendon Achilles dapat membuat anak sulit menapakkan tumit ke lantai.
  3. Faktor sensorik. Sebagian anak memiliki preferensi terhadap sensasi tertentu pada telapak kaki, seperti tekstur atau suhu permukaan lantai.
  4. Kondisi perkembangan atau saraf. Berjalan jinjit yang menetap terkadang berkaitan dengan kondisi seperti cerebral palsy, distrofi otot, atau gangguan pada saraf dan sumsum tulang belakang. Anak dengan autisme juga lebih sering menunjukkan pola berjalan jinjit, tetapi berjalan jinjit saja tidak berarti anak mengalami autisme.

Kapan Kebiasaan Berjalan Jinjit Perlu Diperiksa?

Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila anak:

  • Masih sering berjalan jinjit setelah usia 2 tahun.
  • Berjalan jinjit hanya menggunakan satu kaki atau salah satu sisi lebih dominan.
  • Sebelumnya sudah berjalan normal, tetapi kemudian mulai berjalan jinjit.
  • Tidak mampu menapakkan tumit ke lantai ketika berdiri.
  • Mengalami otot kaki kaku, nyeri betis, kelemahan, atau sering terjatuh.
  • Menunjukkan keterlambatan atau perubahan kemampuan gerak.

Pemeriksaan lebih awal membantu dokter menilai apakah kebiasaan tersebut merupakan variasi pola berjalan atau berkaitan dengan kondisi yang membutuhkan penanganan.

Bagaimana Dokter Memeriksa Anak yang Berjalan Jinjit?

Dokter akan menanyakan riwayat perkembangan anak, sejak kapan kebiasaan berjalan jinjit muncul, apakah terjadi pada kedua kaki, serta apakah anak bisa berjalan dengan telapak kaki menapak.

Pemeriksaan fisik dapat meliputi pengamatan pola berjalan, kekuatan otot, refleks, kelenturan pergelangan kaki, serta kondisi otot betis dan tendon Achilles. Pemeriksaan tambahan atau rujukan ke dokter spesialis terkait dapat dipertimbangkan sesuai hasil evaluasi.

Penanganan tidak selalu diperlukan pada setiap anak. Apabila ditemukan kekakuan otot atau keterbatasan gerak, dokter dapat mempertimbangkan latihan peregangan, fisioterapi, penggunaan alat bantu, atau terapi lain sesuai kondisi anak.

Konsultasikan Perkembangan Gerak Anak di Klinik Utama Amalia Bunda Medika

Anak yang sering berjalan jinjit tidak selalu mengalami gangguan kesehatan. Namun, pola yang menetap, muncul tiba-tiba, atau disertai keluhan lain sebaiknya tidak diabaikan.

Orang tua dapat berkonsultasi dengan dr. Lestarina Veronica Haloho, M.Sc., Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Klinik Utama Amalia Bunda Medika, untuk mengevaluasi pola berjalan dan perkembangan anak.

Jadwal praktik: Senin–Kamis | 18.30–20.30 WIB
Alamat: Jalan Dokter Rajiman No.36, Sabukjanur, Kebonmanis, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap
WhatsApp Reservasi: 0823-2969-9844

Dapatkan informasi layanan Dokter Anak Cilacap dan jadwalkan konsultasi di Klinik Utama Amalia Bunda Medika.

Referensi

  1. Baldo F, et al. (2025). Red Flags in the Evaluation of the Tiptoeing Child. Journal of Paediatrics and Child Health, 61(4), 540–544. https://doi.org/10.1111/jpc.16793
  2. Gelfer Y, et al. (2024). The management of idiopathic toe walking: A British consensus informing best practice and consistent care. British Journal of Surgery. Konsensus BSCOS.
  3. Bauer JP, Sienko S, Davids JR. (2022). Idiopathic Toe Walking: An Update on Natural History, Diagnosis, and Treatment. Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons, 30(22), e1419–e1430. https://doi.org/10.5435/JAAOS-D-22-00419
  4. American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS). Toe Walking. OrthoInfo.
  5. Morozova OM, Chang TF, Brown ME. (2017). Toe Walking: When Do We Need to Worry? Current Problems in Pediatric and Adolescent Health Care, 47(7), 156–160. https://doi.org/10.1016/j.cppeds.2017.06.004