Amalia Bunda Medika

Gerakan Tutup Mulut (GTM) Anak, Apakah Wajar?

Bagikan :

Anak tiba-tiba tidak mau makan atau selalu menutup mulut ketika disuapi tentu bisa membuat orang tua khawatir. Berbagai cara mungkin sudah dilakukan agar Si Kecil mau makan kembali, tetapi tidak selalu berhasil.

Kondisi ini sering disebut sebagai Gerakan Tutup Mulut (GTM). GTM cukup sering ditemukan pada anak, terutama saat masa peralihan mulai MPASI hingga usia prasekolah. Namun, GTM tidak selalu berarti anak sekadar tidak mau makan. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhinya.

Lalu, apakah GTM pada anak merupakan hal yang wajar? Apa penyebabnya dan bagaimana cara menghadapinya?

Apa Itu GTM pada Anak?

Gerakan Tutup Mulut (GTM) merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan, misalnya dengan menutup mulut, memalingkan wajah, menangis, atau menunjukkan penolakan secara verbal maupun nonverbal ketika diberikan makanan.

GTM cukup sering dijumpai pada masa perkembangan anak. Pada beberapa kondisi, penolakan makan dapat bersifat sementara. Namun, jika berlangsung lama atau mulai memengaruhi asupan nutrisi dan pertumbuhan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih.

Apa Saja Penyebab GTM pada Anak?

GTM dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak.

1. Faktor Fisiologis

Rasa tidak nyaman atau nyeri dapat membuat anak menolak makan. Beberapa kondisi yang dapat berperan antara lain:

  • Tumbuh gigi atau sariawan.
  • Infeksi saluran pernapasan atas.
  • Gangguan saluran cerna, seperti GERD atau konstipasi.
  • Intoleransi terhadap makanan tertentu.
  • Gangguan kemampuan oromotor yang memengaruhi proses mengunyah dan menelan.

2. Faktor Psikososial dan Lingkungan

Pengalaman dan suasana saat makan juga dapat memengaruhi perilaku anak. Misalnya, anak yang sering dipaksa atau ditekan untuk menghabiskan makanan dapat memiliki pengalaman negatif terhadap waktu makan.

Selain itu, beberapa kondisi berikut juga dapat memicu GTM:

  • Menu makanan yang monoton sehingga anak mudah bosan.
  • Rasa, tekstur, atau warna makanan yang kurang bervariasi.
  • Penggunaan TV, gadget, atau mainan saat makan.
  • Perubahan lingkungan, seperti pindah rumah atau kelahiran adik.
  • Pengalaman tidak menyenangkan saat makan, seperti tersedak.

3. Feeding Practice yang Kurang Tepat

Kebiasaan makan sehari-hari juga berperan dalam membentuk pola makan anak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Jadwal makan yang tidak teratur.
  • Pemberian susu atau camilan terlalu sering dan terlalu dekat dengan waktu makan utama.
  • Tekstur makanan yang belum sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
  • Stimulasi makan yang belum optimal sejak usia dini.

4. Picky Eating dan Food Neophobia

Pada usia tertentu, anak dapat menjadi lebih selektif terhadap makanan. Kondisi ini dikenal sebagai picky eating, yaitu ketika anak hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu.

Anak juga dapat mengalami food neophobia, yaitu kecenderungan menolak atau ragu mencoba makanan yang dianggap baru atau belum familiar.

Keduanya dapat ditemukan dalam perkembangan normal anak, terutama pada usia prasekolah. Namun, jika berlangsung berkepanjangan dan semakin membatasi jenis makanan yang dikonsumsi, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Apa yang Terjadi Jika GTM Berlangsung Lama?

GTM yang berlangsung dalam jangka panjang dan menyebabkan asupan makanan tidak mencukupi dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Kekurangan Energi dan Protein

Anak yang terus-menerus menolak makan berisiko mengalami kekurangan asupan energi dan protein. Kondisi ini dapat menyebabkan berat badan sulit bertambah atau bahkan menurun.

2. Kekurangan Mikronutrien

Asupan makanan yang terbatas juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi penting, seperti zat besi, seng, vitamin D, dan berbagai mikronutrien lainnya.

3. Gangguan Pertumbuhan

Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dalam waktu lama, pertumbuhan anak dapat terganggu. Salah satunya dapat terlihat dari berat badan atau tinggi badan yang tidak sesuai dengan pola pertumbuhan yang diharapkan.

4. Dampak terhadap Perkembangan

Nutrisi yang tidak mencukupi dalam jangka panjang dapat berdampak pada perkembangan anak, termasuk perkembangan kognitif, perilaku, serta kemampuan motorik.

5. Masalah Psikososial

Tekanan dan konflik yang terus terjadi saat waktu makan dapat membuat anak memiliki pengalaman negatif terhadap makanan. Jika tidak ditangani, hubungan yang tidak sehat dengan aktivitas makan dapat terbentuk.

Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang GTM?

Menghadapi anak yang sedang GTM membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang sesuai. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

1. Ciptakan Lingkungan Makan yang Nyaman

Buat jadwal makan yang teratur, misalnya 3 kali makan utama dengan 2 kali camilan. Waktu makan sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama, sekitar maksimal 30 menit.

Hindari penggunaan gadget, televisi, atau mainan saat makan agar anak dapat lebih fokus pada makanan dan mengenali rasa lapar maupun kenyangnya.

2. Sesuaikan Tekstur dan Jenis Makanan

Berikan makanan sesuai usia dan kemampuan oromotor anak. Perubahan tekstur sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan kemampuan makan anak.

Orang tua juga dapat menawarkan makanan dengan rasa, warna, bentuk, dan tekstur yang beragam agar anak memiliki kesempatan mengenal berbagai jenis makanan.

3. Cari Tahu Apakah Ada Masalah Medis

Jika anak terus mengalami kesulitan makan, penting untuk mencari tahu apakah terdapat kondisi medis yang mendasarinya, seperti GERD, konstipasi, sariawan, atau gangguan kemampuan mengunyah dan menelan.

Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan atau konsultasi dengan ahli gizi, psikolog klinis, maupun tenaga profesional lain sesuai kondisi anak.

4. Hindari Memaksa Anak Makan

Orang tua dapat menerapkan prinsip Division of Responsibility, yaitu orang tua menentukan apa, kapan, dan di mana anak makan, sedangkan anak memiliki peran dalam menentukan apakah dan seberapa banyak ia akan makan.

Hindari memaksa, mengancam, atau mengejar anak agar menghabiskan makanan. Berikan kesempatan kepada anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyangnya.

5. Pantau Pertumbuhan dan Asupan Anak

Pemantauan berat badan, tinggi badan, serta kurva pertumbuhan dapat membantu mengetahui apakah kebutuhan nutrisi anak sudah terpenuhi.

Selain itu, perhatikan juga jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari. Jika terdapat perubahan pertumbuhan atau asupan yang semakin terbatas, konsultasi dengan dokter anak dapat membantu menentukan langkah selanjutnya.

Kapan GTM pada Anak Perlu Diperiksakan?

GTM tidak selalu merupakan kondisi yang berbahaya. Namun, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak jika anak terus mengalami kesulitan makan, pilihan makanannya semakin terbatas, berat badan sulit bertambah atau menurun, serta tampak lemas atau kurang aktif.

Kesulitan mengunyah atau menelan, sering tersedak saat makan, muntah berulang, atau menunjukkan ketakutan yang berlebihan terhadap makanan juga perlu diperhatikan.

Pemeriksaan dokter diperlukan untuk membantu mencari penyebab GTM sekaligus memastikan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terpenuhi.

Konsultasi GTM Anak di Klinik Amalia Bunda Medika

Jika Si Kecil mengalami GTM yang berlangsung lama atau mulai memengaruhi pola makan dan pertumbuhannya, orang tua dapat berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak di Klinik Utama Amalia Bunda Medika Cilacap.

Orang tua dapat melakukan reservasi terlebih dahulu melalui WhatsApp agar jadwal kunjungan dapat dipersiapkan.

📍 Jalan Dokter Rajiman No. 36, Sabukjanur, Kebonmanis, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap
🕐 Jadwal Dokter Anak: Senin–Kamis | 18.30–20.30 WIB
📱 WhatsApp Reservasi: 0823-2969-9844

Jangan ragu berkonsultasi jika masalah makan Si Kecil mulai mengganggu asupan nutrisi atau tumbuh kembangnya.

Author: dr. Ullima Pramulasari