Di era digital, penggunaan gadget semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk pada anak-anak. Ponsel, tablet, dan televisi sering digunakan sebagai sarana hiburan maupun belajar. Namun, penggunaan layar yang berlebihan perlu diperhatikan karena masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi perkembangan otak, emosi, dan kemampuan bersosialisasi.
Screen time adalah durasi waktu yang dihabiskan seseorang untuk menggunakan perangkat dengan layar, seperti ponsel, tablet, televisi, dan komputer. Anak membutuhkan lebih dari sekadar stimulasi melalui tontonan. Interaksi langsung, bermain, bergerak, dan berkomunikasi dengan orang tua juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembangnya.
Bagaimana Screen Time Memengaruhi Perkembangan Emosi Anak?
Perkembangan sosioemosional merupakan proses ketika anak belajar mengenali perasaan, mengendalikan emosi, memahami orang lain, dan membangun hubungan sosial.
Penggunaan layar yang berlebihan berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk melatih keterampilan tersebut, terutama ketika gadget menggantikan waktu bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi secara langsung.
Pada sebagian anak, penggunaan gadget yang sulit dikendalikan dapat berkaitan dengan kesulitan mengatur emosi, mudah frustrasi, atau lebih sering mengalami tantrum. Anak juga dapat kehilangan kesempatan untuk belajar berbagi, menghadapi konflik, dan memahami perasaan orang lain.
Meski demikian, dampaknya tidak sama pada setiap anak. Usia, durasi penggunaan, jenis konten, pendampingan orang tua, serta lingkungan keluarga turut memengaruhi perkembangan sosioemosional anak.
Anak Tantrum Saat Gadget Diambil, Apakah Normal?
Anak yang menangis, marah, atau mengamuk ketika gadget diambil tidak selalu menunjukkan adanya gangguan perilaku. Pada usia balita, kemampuan mengendalikan emosi dan menerima kekecewaan memang masih berkembang.
Namun, apabila anak terbiasa menggunakan gadget untuk menghibur diri setiap kali merasa bosan, sedih, atau marah, anak bisa memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar menghadapi emosi tersebut dengan cara lain.
Orang tua dapat membantu dengan tetap tenang, memberikan batasan yang konsisten, dan mengajak anak mengenali perasaannya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Adik masih ingin menonton, ya? Sekarang waktunya berhenti. Yuk, kita bermain bersama.”
Jika tantrum terjadi sangat sering, berlangsung intens, sulit ditenangkan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi kondisi dan perkembangan anak.
Berapa Batas Screen Time Anak yang Dianjurkan?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan rekomendasi penggunaan layar untuk anak usia di bawah 5 tahun sebagai berikut:
- Bayi di bawah 1 tahun: tidak dianjurkan mendapatkan screen time.
- Anak usia 1 tahun: screen time sedentari, seperti menonton video, tidak dianjurkan.
- Anak usia 2 tahun: maksimal 1 jam sehari; semakin sedikit, semakin baik.
- Anak usia 3–4 tahun: maksimal 1 jam sehari; semakin sedikit, semakin baik.
Untuk anak usia sekolah, orang tua perlu menetapkan batas penggunaan layar yang sesuai dengan kebutuhan belajar, tidur, aktivitas fisik, dan interaksi sosial. Pilih konten yang sesuai usia dan dampingi anak saat menggunakannya.
Bagaimana Cara Membatasi Screen Time pada Anak?
Membatasi penggunaan gadget tidak harus dilakukan dengan melarang anak sepenuhnya. Orang tua dapat membangun kebiasaan digital yang lebih sehat melalui beberapa langkah berikut:
- Buat jadwal penggunaan gadget. Tetapkan batas waktu yang konsisten dan sesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak.
- Hindari gadget saat makan dan menjelang tidur. Usahakan perangkat tidak digunakan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur dan jauhkan dari kamar tidur.
- Jangan selalu menggunakan gadget untuk menenangkan anak. Bantu anak mengenali dan mengelola emosinya melalui komunikasi serta pendampingan.
- Sediakan aktivitas alternatif. Ajak anak membaca buku, menggambar, bermain di luar rumah, berolahraga, atau melakukan permainan bersama keluarga.
- Dampingi anak saat menggunakan layar. Pilih konten yang sesuai usia dan ajak anak berdiskusi mengenai apa yang ditonton.
- Berikan contoh yang baik. Kurangi penggunaan ponsel ketika sedang berinteraksi dengan anak agar waktu bersama lebih berkualitas.
Jika anak sudah terbiasa menggunakan gadget dalam waktu lama, orang tua dapat mengurangi durasinya secara bertahap. Terapkan aturan dengan konsisten dan berikan apresiasi ketika anak mampu mengikutinya.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Dokter Anak?
Setiap anak memiliki proses perkembangan emosi yang berbeda. Namun, orang tua perlu memberikan perhatian apabila anak sering mengalami tantrum yang intens, kesulitan menenangkan diri, sulit berinteraksi dengan orang lain, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penggunaan gadget juga perlu dievaluasi apabila mulai mengganggu waktu tidur, aktivitas bermain, belajar, maupun hubungan anak dengan keluarga.
Konsultasi dengan dokter spesialis anak dapat membantu mengevaluasi tumbuh kembang, kebiasaan penggunaan gadget, serta faktor lain yang mungkin memengaruhi perilaku anak. Dengan demikian, orang tua dapat memperoleh saran yang sesuai dengan usia dan kebutuhan si kecil.
Konsultasikan Tumbuh Kembang Anak di Klinik Amalia Bunda Medika Cilacap
Penggunaan gadget yang sehat perlu diimbangi dengan tidur cukup, aktivitas fisik, bermain, dan interaksi langsung bersama keluarga. Jika Ayah dan Bunda memiliki kekhawatiran mengenai tantrum, pengelolaan emosi, atau tumbuh kembang si kecil, konsultasikan bersama dokter spesialis anak di Klinik Utama Amalia Bunda Medika.
Jadwal Dokter Spesialis Anak:
Senin–Kamis | 18.30–20.30 WIB
Alamat:
Jalan Dokter Rajiman No. 36, Sabukjanur, Kebonmanis, Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap.
WhatsApp Reservasi:
0823-2969-9844
Silakan konfirmasi jadwal pelayanan, biaya konsultasi, dan persyaratan sebelum datang ke klinik.
Author: dr. Priliese Indra Devi